Pembelajaran Bahasa Inggris
di Sekolah Dasar:
Beberapa Persoalan dan Saran Perbaikan[1]
Mudjia Rahardjo[2]
Tidak hanya sebagai anggota komunitas pendidikan bahasa dan sastra Inggris saya merasa bangga mengamati kebangkitan kesadaran akan pentingnya pembelajaran Bahasa Inggris lebih dini. Sebagai warga Malang Raya, saya pun merasa bangga, karena mendahului daerah-daerah lain, para pengambil kebijakan pendidikan di kawawan ini telah memilih Bahasa Inggris sebagai salah satu kurikulum muatan lokal.
Namun demikian, baik sebagai anggota komunitas pendidikan bahasa dan sastra Inggris maupun sebagai warga Malang Raya, saya juga merasa tidak cukup puas dengan pencapaian usaha tersebut selama ini. Tidak berarti saya kurang menghargai apa yang telah dilakukan oleh para pengambil kebijakan pendidikan maupun para praktisi pendidikan Bahasa Inggris, tetapi justru karena ingin melihat ada kesesuaian antara usaha keras dan sungguh-sungguh dari para pengambil kebijakan pendidikan maupun para praktisi pendidikan Bahasa Inggris dengan pencapaian usaha tersebut.
Memang, pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar telah berkembang dengan pesat. Akan tetapi, pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar belum dapat berhasil secara optimal karena keterbatasan-keterbatasan internal dan eksternal di lapangan. Di sisi lain, kehendak menyetarakan mutu pendidikan Indonesia dengan negara-negara maju melalui Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menjadikan kebutuhan akan kecakapan berbahasa Inggris bagi seluruh warga sekolah semakin mendesak. Secara optimistik, gairah tersebut memang harus diterima sebagai penguatan terhadap keberadaan pengajaran Bahasa Inggris kepada siswa Sekolah Dasar tersebut.
Melalui uraian pendek berikut, saya hendak menegaskan kembali, menelaah, dan mengajukan saran-saran atas sejumlah masalah dalam pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Maksud dan tujuan uraian ini pun cukup jelas, yaitu mengoptimalkan pencapaian agar sebanding dengan usaha yang telah dilakukan selama ini.
Pengalaman bekerjasama dengan para peneliti, membimbing dan menguji tesis dan disertasi, hingga mengamati dan berdialog langsung dengan para pembelajar Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, memungkinkan saya memperoleh kesan menarik dan gambaran agak jernih tentang persoalan ini.
Pertama, ternyata tidak ada hubungan cukup kuat antara aspek afektif dengan gabungan aspek kognitif dan behavioral. Artinya, sebagian besar siswa memang menunjukkan ketertarikan cukup besar terhadap pelajaran Bahasa Inggris. Namun demikian, ketertarikan dan bahkan rasa senang tersebut tidak mampu mengantarkan mereka untuk mendapatkan pengetahuan dan kecakapan Bahasa Inggris. Bila ditelusuri lebih lanjut, juga tidak tampak ada hubungan kuat antara aspek kognitif dengan behavioral. Artinya, walaupun anak-anak bisa dikatakan “memiliki pengetahuan” tentang Bahasa Inggris, ternyata tidak mampu menggunakan Bahasa Inggris. Akhirnya, Bahasa Inggris menjadi semacam “pengetahuan” dan bukan “kecakapan” apalagi “kebiasaan”.
Kedua, mengikuti kaidah bahwa ganjaran terbesar bagi usaha belajar adalah pengetahuan dan kecakapan, maka grafik aspek afektif cenderung mengalami penurunan ketika ternyata kecakapan yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang telah dilakukan. Dalam ungkapan sederhana, ketika pelajaran Bahasa Inggris dirasakan menjadi semakin sulit, maka ketertarikan dan rasa senang belajar tersebut menjadi semakin menurun, dan bisa berakhir dengan apatisme terhadap Bahasa Inggris.
Gejala semakin menurunnya aspek afektif ini --- sejauh perbincangan saya dengan para pengajar Bahasa Inggris --- ternyata terus terbawa hingga yang bersangkutan menapaki bangku kuliah di luar Jurusan Bahasa Inggris. Usaha menjadikan sekolah atau perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan dwibahasa (bilingual) misalnya, ternyata sangat terkendala oleh sikap apatisme terhadap Bahasa Inggris yang terbawa dari pengalaman belajar pada jenjang pendidikan sebelumnya.
Ketiga, walaupun saya kurang berkenan dengan padanan “Tak ada rotan akar pun berguna”, tetapi harus diakui bahwa ungkapan itu bisa menggambarkan kenyataan sejumlah kekurangan dalam pendidikan kita. Kalau dalam berbagai matapelajaran lain saja, masih banyak ditemukan gejala ketidak-cocokan dalam spesialisasi dan kualifikasi yang ada dengan spesialisasi dan kualifikasi yang seharusnya, maka dalam bidang pembelajaran Bahasa Inggris kenyataannya lebih parah.
Sudah barang tentu gejala tersebut sangat merisaukan saya, karena sejauh pembacaan saya atas berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berhasil menguasai kecakapan berbahasa asing ternyata memiliki pengalaman berinteraksi edukatif dengan “pendidik” yang juga berbahasa Inggris dengan baik. Sekaligus ini menegaskan bahwa Bahasa Inggris bukan sekedar “matapelajaran” melainkan piranti interaksi pembelajaran.
Penghampiran kita terhadap pembelajaran Bahasa Inggris bukan hanya menjadikannya “bahan belajar” tetapi harus pula menjadi “media belajar”. Bahasa Inggris tidak hanya merupakan matapelajaran, tetapi juga harus diupayakan menjadi bahasa pengantar dalam berbagai bidang pembelajaran. Justru bila lingkungan belajar bisa berkembang menjadi komunitas berbahasa Inggris, maka kedudukan dan peran para guru Bahasa Inggris menjadi sangat penting berkenaan dengan pembenahan berbagai aspek kebahasaan, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, hingga ketepatan diskursus.
Namun demikian, benar belaka bahwa siapa pun guru Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, mereka bukan “akar” yang ditakdir tidak bisa menjadi “rotan”. Para guru dengan latar belakang apa pun sebenarnya bisa “dibantu” untuk menjadi pelajar sekaligus pembelajar Bahasa Inggris yang baik. Sudah barang tentu, upaya perbantuan tersebut harus didasarkan hasil diagnosis kesulitan atau asesmen kebutuhan belajar mereka sebagai guru Bahasa Inggris.
Sejauh hasil kajian yang telah dilakukan, ada sejumlah aspek kritis yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Masing-masing adalah persoalan fonologis, sintaksis, pengembangan bahan belajar, dan metode pembelajaran. Dari sisi fonologi, ada cukup bukti bahwa masih begitu banyak kesalahan dilakukan oleh para guru dalam pengucapan (pronunciation) kata, frase, atau kalimat dalam Bahasa Inggris. Karena itu, semacam pelatihan intensif yang dulu dikenal dengan EST (Ear and Speech Training) harus diagendakan sebagai salah satu bahan pemberdayaan guru Bahasa Inggris.
Secara teoretik, pemilihan bahan belajar ini juga didasarkan pada pengertian bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bermakna (a system of meaningful vocal symbol). Ketepatan dalam pengucapan ini tetu saja berimplikasi pada makna dari ucapan tersebut. Demikian pula, kecakapan ini bermakna penting bagi seorang pembelajar Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, karena bisa mempersiapkan para siswa untuk menguasai seluruh rentang bunyi dalam Bahasa Inggris.
Dari sisi sintaktis, ternyata banyak guru Bahasa Inggris Sekolah Dasar yang lemah dalam penguasaan tata bahasa. Persoalan ini menjadi serius karena makna sebenarnya dalam bahasa bukan terletak pada kata-kata belaka, melainkan justru pada letak kata-kata tersebut di antara kata-kata yang lain. Perbedaan letak dan bentuk kata akan menghasilkan pengertian yang berbeda. Diletakkan dalam konteks usaha menjadi Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran, --- yang dilakukan tidak hanya oleh guru Bahasa Inggris --- maka guru Bahasa Inggris harus bisa menjadi rujukan tata-bahasa bagi seluruh komunitas sekolah.
Dari sisi pengembangan bahan belajar, yang boleh jadi karena penguasaan yang kurang terhadap Bahasa Inggris, para guru masih cenderung mengikuti begitu saja pilihan dan urutan bahan belajar sebagaimana dalam buku-buku yang bisa diperoleh di pasaran. Memang tidak semua buku Bahasa Inggris bisa dikatakan buruk. Namun demikian, harus disadari bahwa kalau hanya yang disajikan buku yang diajarkan, dan itu pun dengan pendekatan sebagaimana pada matapelajaran lain, bisa dipastikan bahwa para guru akan kekuarangan bahan belajar. Karena itu, setiap guru Bahasa Inggris harus guru cakap memilih, menyesuaikan, dan bila perlu mengembangkan sendiri bahan belajar dengan mempertimbangkan kebutuhan, lingkungan dan minat belajar siswa-siswanya. Bahan belajar harus memiliki kaitan fungsional dengan lingkungan, pengalaman, dan kehidupan kesehatian siswa.
Dari sisi metode pembelajaran, banyak guru Bahasa Inggris tidak menghayati perbedaan sifat dasar antara matapelajaran bahasa dengan matapelajaran lain. Sebagaimana telah disebutkan, para siswa yang berhasil menguasai Bahasa Inggris dengan baik ternyata telah berinteraksi dengan orang yang cakap berbahasa Inggris. Karena itu, semestinya para guru Bahasa Inggris menghayati perannya sebagai teladan perilaku (model of behavior) dalam berbahasa Inggris.
Selanjutnya, karena setiap guru harus berhasil menarik dan merawat perhatian, serta membesarkan hati para siswa untuk mempraktikkan materi pembelajaran, maka setiap pilihan metode harus didasarkan pada pertimbangan bagaimana menarik dan merawat perhatian serta membuat para siswa berani mempraktikkan, termasuk merasa nyaman ketika harus dikoreksi oleh gurunya. Pun dalam kaitan memilih dan menggunakan media pembelajaran, bercerita, menyanyi dan memberikan contoh sebuah tindakan.
Akhirnya, menutup uraian ringkas ini saya merasa perlu untuk menghargai setiap usaha mandiri baik dari kalangan pendidikan untuk ikut memikirkan, membahas, dan melakukan apa-apa saja yang perlu bagi optimasi pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Demikian pula, saya merasa perlu menyarankan agar Dinas Pendidikan terus meningkatkan pemberdayaan guru Bahasa Inggris, baik melalui jalur pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Sekian.
[1] Ceramah Kunci Akademik (Academic Keynote Speech) disampaikan pada Seminar Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, kerjasama IKIP Budi Utomo Malang dengan NAMS Institute, 15 November 2009.
[2] Asesor Program Studi Bahasa Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, dan Guru Besar Fakultas Humaniora dan Budaya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
